Membenam pedih mengakar dijiwa
Menelan pahitnya kegetiran
Angan terseok dibalik cadar awan
Menusuk dan mengoyak hati
Menoreh serta membunuh akal ini
Sebulir kristal bening menetes
Mengalir digaris sudut mata
Berdebam jatuh kedalam gelas
Dua cincin patah diujung jari
Roda malam terjepit jerih
Hiruk pikuk tanpa jeda
Siapa yang tahu pudarnya lukisan
Aku punya pilihan yang tak kau
ketahui
Lelah mencampakkanku
Merampas semua cerita tentang aku
dan kamu
Masih kudekap pilu
Pernyataanmu menampar merah rona
hasrat
Menghunus kedilemaan disebait
puisi
Geram merangkul lutut kecil
Menyikut gulana dikalbu
Deru sang bayu menusuk kulit ari
Hembusan dahaga menagkup wajah
Hanya berupa potongan bait-bait
kutikula
Tidak ada komentar:
Posting Komentar