Total Tayangan Halaman

Sabtu, 08 Oktober 2011

Penantian Seorang Sahabat


Sahabat  
Disini aku menunggu hadirnya dirimu
Namun kau tak datang jua
Masih terekam dibenakku
Hari-hari indah yang kita lewati bersama
Sahabat
Hidupku seolah kosong
Sunyi tanpamu disini
Kepergiaanmu meninggalkan beban duka dijiwaku
Canda, tawa yang kita lewati berdua
Tinggalah sebuah sejarah
Sahabat
Aku merindukan semua hari seperti dulu
Berharap kau akan datang kembali
Melalui..puisi ini ku goreskan setitik lara
Sepeser keinginan agar kau disini
Sahabat
Ku harap walau kau jauh disana
Tiada lorong yang akan memisahkan kita
Tetaplah hati kita sebagai sahabat
Seperti dulu, sekarang dan seterusnya
Hingga penantian seorang sahabat
Adalah pelita dimusim kerinduan cerita kita.

Cinta Tak Berujung


Masih bisakah aku bercanda ria bersamamu
Setiap menit, detik, selalu denganmu
Memahami lekuk garis canda manismu
Aku telah lama merindukanmu
Setiap insan yang mencintaiku
Aku pun mencoba mencintai mereka dengan hatiku
Tapi, nyatanya aku tak bisa
Mendelete namamu dari relung hati dan jiwa
Dan tak pernah bisa gantikanmu
Tak ada yang mampu tenangkan
Tak ada yang bisa menghiburku
Aku menangis lagi karena kehancuranku
Betapa tak adilnya dunia ini
Disaat rasa benar-benar terpatri
Dia pergi dan tak pernah kembali
Namun ia belum mati sia-sia
Hanya aku yang tak tahu kabarnya
Tapi aku selalu mengingatnya
Untuk cintaku yang tak berujung
Dengan nada harmoni keinginanku sad-ending
                       

Nyanyian Sunyi yang Semakin Sunyi


Belum lama ini aku datang kemari
Berdiam diri bisu yang terpatri
Kilau kemilau menyorot arah
Langkah terseok  penuh beban duka
Rahangku kaku tuk berucap
Nyanyian sunyi yang semakin sunyi
Entah dimana lagi kutemukan kedamaian
Ditempatkan pada waktu yang salah
Sanggar kesepian penjuru
Berpeluruh peluh mencair tetesan kekejaman
Kemana makna keabdian setia itu?
Ketulusan kurikulum disetiap pembahasan
Tertawa tanpa intonasi
Bertingkah aneh bagai topeng monyet
Kupikir akulah yang salah karena sempat mencintaimu
Sampai akhirnya penyesalan tak berujung
Tak lagi ingin kukenal insan sepertimu
Sadis , bahagia diatas penderitaan ragaku
Tertoreh instingku pada wajah yang bersemu merah
Aku tahu kau sedang gembira
Aku pun turut suka
Kesenyapan kan kusimpan dihariku sendiri
Biarlah berakhir pilu yang menyamakan.
           


Kisah ku


Membenam pedih mengakar dijiwa
Menelan pahitnya kegetiran
Angan terseok dibalik cadar awan
Menusuk dan mengoyak hati
Menoreh serta membunuh akal ini
Sebulir kristal bening menetes
Mengalir digaris sudut mata
Berdebam jatuh kedalam gelas
Dua cincin patah diujung jari
Roda malam terjepit jerih
Hiruk pikuk tanpa jeda
Siapa yang tahu pudarnya lukisan
Aku punya pilihan yang tak kau ketahui
Lelah mencampakkanku
Merampas semua cerita tentang aku dan kamu
Masih kudekap pilu
Pernyataanmu menampar merah rona hasrat
Menghunus kedilemaan disebait puisi
Geram merangkul lutut kecil
Menyikut gulana dikalbu
Deru sang bayu menusuk kulit ari
Hembusan dahaga menagkup wajah
Hanya berupa potongan bait-bait kutikula