Total Tayangan Halaman

Sabtu, 08 Oktober 2011

Pelangi diSore Adha


Kala terpaku seorang diri
Tiadalah jeda dirai hati
Mimbar-mimbar beralas aspal permadani
Pelangi di sore adha
Bergaris alur membentuk oretan warna
Mejikuhibiniu
Laksana rumput teki diluas hampar alam

Pelangi di sore Adha
Menabu gema harmonisasi rasa
Bak anak tangga bertingkat
Kami saling tertawa lepas
Melelehkan gamang tanpa roh

Pilar-pilar langit tampak kokoh
Alam semesta bertasbih
Berdzikir memilir butir-butir kerikil
Mengumandangkan asma MU ya Rabb
Takbir bergemuruh disepanjang malam
Beralas sajadah sujud hamba dihadapMU

Pelangi di sore Adha
Kami bercanda menatap ufuk senja
Menoreh kesan renda sulaman ungu
Menyibak tabir kehakikihan raga
Karena ENGKAU sang Maha Pecinta

Pezinah Kanvas

Mimpi malam bergelak sumbar
Hati bersauh pada perantara angan
Kudekap sinar dibalik labirin
Resah mengental berjejal
Lenggok lekuk bentuk garis
Konkrit dan abstrak
Pada secarik buram abu
Torehan nanah kanvas
Mengalir berputar diubun papan
Merah , coklat berdarah oral
Diremas sadis pezinah kanvas
Menuri titik penghubung menjadi riil
Didekap, direngkuh dalam pelukan imajinasinya
Dikecup penuh cinta tepat dibibirnya
Ranum bagai mawar yang hendak mekar
Argh..gairah merasuk jiwa
Selimuti kawah hasrat yang menggila
Dipoles sedemikian rupa
Duh..elok bentuknya menggugah sukma
Menggetarkan naluri tanpa jeda
Maka dikecup lagi lebih mesra
Menawarkan secangkir asmara sang pezinah kanvas
Pada pikirnya yang melanglangbuana
Merayu segenap pecinta dari yang lebih cinta.

Temaram Jiwa

Malam menghias bias rembulan
Awan berderap menyusun makna
Ku peluk kehampaanku tanpamu sobat
Wajahmu nan ayu memoles sepiku
Kerinduan akan kisah kecil kita
Dimana saat tertawa menggema bersama
Mentari tlah kembali ke peraduan
Tapi kita masih asyik bercanda
Masa kecil yang dirindukan
Masa kecil yang dinanti
Pada kelindukan hari
Aku dan aku harus berpisah
Temaram berbias mesra penuh romantisme rasa
Senantiasa senandungkan langkah
Tentang kemarin , esok , lusa bahkan seterusnya
Sejengkal lelah diufuk bumi
Tujuh gugus bintang bersembunyi dipunggung bulan
Seutas tali mengikat leher ku,
Mencekik raga yang terlunta
Lembaran demi lembaran terukir bait alibi sang perindu
Diselaksa ubun senja nan temaram
Ingatkah engkau tentang kisah kita
Kisah anak-anak manis berseloroh manja
Seperti itulah dikala kita mengenang masa lalu
Sampai detik ini persahabatan kita tak akan pernah lekang
Biarkan apa kata perempuanmu
Biarakan apa kata lelakimu
Karena kita adalah sahabat
Dan hanya sahabat.

Aku Pergi


T’lah kuleburkan asa dalam selaksa
Menepis kecurigaan semu
Menerjang kecemburuan jemu
Untuk selalu dan tetap percaya padamu

Fakta berbalik mengatakan salah
Aku sungguh tak bisa mencintaimu
Seperti kemarin hari
Karena rasaku tlah sungguh musnah

Bohong aku
Jika katakan aku begitu menyayangimu
Padahal batinku mengamuk dan meronta
Untuk katakan tidak,tidak,dan tidak

Aku mencoba tetap bertahan mendampingimu
Walau adakalanya kita tak pernah sejalan
Ku selalu mencoba mencari arah terbaik
Agar damai bersenandung bersama kita

Namun jangankan damai senyum pun begitu jauh
Lidah kelu tuk berucap
Mata lelah tuk bertatap
Pada akhirnya memang tak berpihak
Dan aku harus pergi